Briker untuk Bikin “VoIP Rakyat” Sendiri

Standard

Briker lagi Briker lagi :) Jangan bosen yah.

Ah, tidak apa-apa, malah lebih baik begini, dengan begitu anda-anda semua bisa tertarik dan mencoba mainan-baru-yang-serius dari saya dan rekan. Saya copy paste artikel menarik dari QBHeadlines.com.

Briker untuk Bikin “VoIP Rakyat” Sendiri

Oleh: Restituta Ajeng Arjanti (2008-12-18)

Setelah VoIP Rakyat, inovasi baru di bidang komunikasi kembali dikembangkan oleh Anton Raharja. Briker namanya. Sama seperti VoIP Rakyat, Briker dikembangkan dengan basis open source.

Briker mulai dikembangkan sekitar pertengahan tahun 2008. “Pengembangannya tidak terlalu lama juga, hitungan bulan, tidak sampai setengah tahun,� Kata Anton. Distro (distribusi) Linux yang satu ini dibangun olehnya, bersama beberapa rekannya yang ikut memelihara VoIP Rakyat. “Di sana ada Kang Onno, saya sendiri, dan tim dari PT Infotech Media Nusantara.�

Nama Briker dipilih tak terlepas dari fungsinya. “Brik brik brik.. Kang Onno berpesan, namanya harus ada hubungannya dengan telepon,� jelas Anton. Akhirnya, Anton dan rekannya mencari kata yang familiar di Indonesia, tak sulit dibaca oleh orang asing, dan berhubungan dengan telekomunikasi. “Briker adalah kata yang cocok.�

Bukan Pengganti VoIP Rakyat

Briker dikembangkan dengan mengintegrasikan beragam open source software. “Daftar lengkapnya ada di dalam Briker itu sendiri, tidak rahasia sama sekali. Singkatnya, di sana ada Linux, server VoIP, database, web server, dan banyak lagi software pendukung,� papar Anton. Beragam software itu pun punya lisensi yang beragam. Antara lain LGPL, GPL, GPLv3, BSD License. Semuanya terbuka untuk umum, dapat dibaca, dipelajari dan diubah.

VoIP Rakyat dan Briker, keduanya sama-sama dikembangkan sebagai media komunikasi. Lalu, apa bedanya? “VoIP Rakyat adalah penyedia jasa telekomunikasi berbasis IP (internet protocol), baik voice, video, maupun teks,� kata Anton. VoIP Rakyat sifatnya gratis dan tidak resmi. Menurutnya, solusi komunikasi ini fokus pada pemanfaatan jaringan berbasis IP yang telah ada.

Beda dengan VoIP Rakyat, Briker merupakan distro Linux baru yang khusus dibuat untuk membantu masyarakat dalam memanfaatkan jaringan berbasis IP milik mereka―untuk berkomunikasi, baik lewat suara atau video. Menurut Anton, Briker bisa digunakan untuk membuat “VoIP Rakyat” versi penggunanya sendiri. Misalnya untuk digunakan dalam skala kecil seperti di kampus, kantor, pabrik, atau closed user group lain.

Singkat kata, Briker adalah IPPBX berbentuk software. “Dengan menginstall Briker pada komputer, maka komputer itu berubah jadi mesin PBX (private branch exchange) dengan kemampuan telekomunikasi via jaringan IP. Jadi sebenarnya menggunakan Briker tidak selalu harus terhubung dengan VoIP Rakyat, bahkan tidak perlu harus ada internet, cukup LAN saja juga bisa.� papar Anton.

Semakin banyak Briker terpasang dan saling berhubungan melalui VoIP Rakyat, semakin besar pula jaringan telekomunikasi berbasis IP gratis versi non-operator resmi. Anton berharap, jaringan tersebut bisa semakin besar. Dengan begitu, kelak akan banyak operator resmi di Tanah Air yang tertarik dan mau serius menyediakan solusi-solusi berbasis IP.

Menggunakan Briker

Siapa yang jadi targer pengguna Briker? “Tidak ada target khusus, kami yakin semua butuh Briker,� kata Anton. Briker, menurutnya, bisa saja digantikan dengan solusi proprietary buatan negara lain. Namun, hal itu tak perlu dilakukan bila anak bangsa sendiri sudah bisa mengembangkannya. Ini sesuai dengan dasar filosofi pengembangan Briker, kata Anton, yakni Briker harus berguna bagi masyarakat Indonesia.

Briker sudah bisa diunduh di http://www.briker.org. Anton mengatakan, “Penggunanya masih sedikit, jumlah download belum sampai 1000.� Menurutnya, hal itu bisa dimaklumi karena besar file Briker mencapai 300MB. “Walaupun ini masih kecil dibanding distro Linux lainnya, tapi relatif besar untuk didownload dari banyak tempat di Indonesia.� Kebanyakan pengguna Briker dari kalangan perusahaan. “Ada yang sudah bisa menggunakan fitur fax yang ada pada rilis terbaru Briker, Desember ini.�

Karena keterbatasan mesin pengembangnya, saat ini, Briker baru bisa diinstall dengan lancar di komputer yang berprosesor Pentium IV dengan RAM 256MB. “Ke depan, kami akan siapkan untuk banyak platform,� kata Anton. Briker sendiri hanya butuh ruang harddisk 700MB.

Kendala, Masih Infrastruktur

Infrastruktur masih jadi kendala dalam penerapan teknologi ini. “Di banyak tempat, kami mendapati kondisi di mana mendownload saja susah, dan kalau sudah dipasang, manfaatnya tidak 100% karena terkendala bandwidth kurang, delay tinggi, dan kualitas jaringan rendah,� jelas Anton.

Di luar infrastruktur, masih ada kendala dalam hal teknis. “Untuk kendala teknis, kami bantu penyelesaiannya dengan menyediakan manual dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Manualnya tersedia bebas untuk didownload dari menu documentation di http://www.briker.org.� Kalau mau, pengguna juga bisa berdiskusi langsung dengan system engineer yang membangun Briker lewat fasilitas chatting.

Anton berharap pihak-pihak yang memiliki bandwidth bisa membantu timnya menyebarkan Briker. Dari segi teknis, dia dan timnya akan memperbaiki tampilan Briker, menyederhanakan user interface dan memperkaya fitur Briker.

8 thoughts on “Briker untuk Bikin “VoIP Rakyat” Sendiri

  1. met bergabung pak anton…
    bagus bgtz tuh…baik VoIP rakyat n briker…
    mohon di tingktkan lagi…
    btw klo download full tutorial membangun VoIP,blh gak n tlg kasih alamtnya donk…
    Oia,kampusku mo ngadain seminar tuh ttg jaringan…
    tp mash nyari pembicara n topikx.
    klo ada info kabrin aja scepatnya ke emailku aja
    ryan_roy65@yahoo.com

    thanks n mga sukses aja

  2. erwin

    asalamualaikum …’
    mas …. saya sudah mencoba briker secara local namun hasilnya berjalan dengan baik… byang ingin saya tanyakan bagaimana caranya agar dapat terkoneksi dengan voiprakyat …. documentasi di web http://www.briker.org tidak dapat dibuka… mohon penjelasannya …

    trima kasih …
    erwin

  3. Manan Razali

    Assalamu’alaikum Pak Anton, saya Manan dari Malaysia. Saya rasa mungkin lebih mudah utk kita berbicara dalam bahasa Inggeris kerana jika saya gunakan bahasa Malaysia dan bapak pula gunakan bahasa Indonesia, nanti akan ada beberapa istilah yg kita sama2 kurang faham walaupun bahasa kita berdua hampir sama. Makanya, saya bimbang nanti apa yg ingin saya sampaikan akan terkeliru pula maksudnya. Tetapi dengan menggunakan bahasa Inggeris, Insya-Allah kita berdua akan sama2 faham dengan lebih mudah.

    I am considering to set-up my own VoIP network in Malaysia and I’m happy to find out from the internet that you have already operated VoIP Rakyat in Indonesia. As such, I hope to learn from your experience and seek your advise in certain areas that I need assistance and clarification.

    My team of engineers are familiar with Asterisk and have tried several Asterisk-based products including Briker. However, my main concern when using Asterisk is that each single Asterisk IP-PBX can only handle up to 2K users and 250 concurrent calls. In addition, compared to P2P, Asterisks routes rtp via its IP-PBX server and because of this, the bandwidth requirement to support the servers must be high.

    In VOIP Rakyat’s case, I can see that you have around 77K registered users and close to 23K of these users are active. Based on these numbers, I’m sure that your VoIP network handles more than 250 concurrent sessions. My question is : How many Asterisk IP-PBX/servers are installed at your Central Location & how much bandwidth needs to be made available at this Central Location to handle the high number of concurrent sessions?

    Sekian, Pak Anton. Terima kasih dan salam hormat dari saya. Wassalam,
    -Manan Razali-

  4. Siang pak anton, saya ingin bertanya saya menggunakan briker untuk VoIP, untuk client saya pakai SJPhone & Zoiper, untuk perangkatnya menggunakan Headset dan microphone.

    Saya ingin bertanya, Kenapa suaranya rada kemeresek? apakah itu dipengaruhi oleh perangkatnya?

    Kemudian untuk Billingnya bagaimana agar bisa digunakan?

    Terima Kasih…

Comments are closed.